5 November 2010

Sebuah Pengharapan

0 comments

Ringkasan Kajian Analitik jum’ah Amin tentang Blueprint Gerakan Dakwah Ikhwanul Muslimin
Ats-Tsawabit Wal Mutaghayyirat
Ringkasan ini ada dengan tujuan ingin menawarkan kepada para pembaca untuk mengkaji sebuah gerakan yang begitu ditakuti musuh-musuh islam, yang muryid pertamanya dibunuh dengan konsipirasi kejam, yang banyak pengikutnya rela mengalami siksaan bahkan mati demi menjaga “kemurnian islam” di balik jeruji besi. Sebuah gerakan yang berkembng sangat pesat dari timur ke barat belahan dunia, sebuah gerakan yang menekankan pembinaan pribadi islami yang mereka sebut “tarbiyah”, yang InsyaAllah bergerak berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist dengan kaidah Ats-Tsawabit Wal Mutaghayyirat.   
Saya pribadi mulai tertarik berinteraksi dengan beberapa literature serta berbagai sumber tentang ikhwanul muslimin ketika  dua tahun yang lalu saya membaca episode “pembunuhan” mursyid ikhwan yang pertama Hasan Al-Banna, saya penasaran “sebahaya” apakah orang ini terhadap musuh-musuh islam??? Saya yakin, semua yang wafat terbunuh karena dakwah islam oleh konsiprasi musuh islam bukanlah orang sembarangan, pastilah mereka adalah orang-orang istimewa yang lahir dari keluarga rabbani, yang tumbuh dan berkembang di bawah naungan  Al-Qur’an sehingga mereka terbentuk dengan konsep diri yang islami atau bisa disebut “Al-Qur’an” berjalan, maka ketika mereka menyaksikan system hidup yang bertentangan dengan isi Al-Qur’an dan Al-Hadist maka mereka tidak bisa tenang, mereka akan “bergerak”, menginisiasi sebuah gerakan untuk mengembalikan ummat islam kepada kehidupan islami. Sejarah mencatat pasca keruntuhan Kekhaliafahan Turki Ottoman 1924 ,dalam deretan nama-nama tokoh pergerakan islam yang wafat, maka kita akan menemukan banyak nama dengan kisah heroik perjuangan mulia tanpa lelah “mengembalikn kehidupan islami” Hasan Al-Banna, Syekh Ahmad Yassin, Sayyid Quthb, Abdul Aziz Rantisi, Yahya Ayyash hingga ke Abdullah Al-Mabhuh.
Disaat dunia Islam terbelakang, terjajah oleh sistem yang kufur, dan banyaknya  kesalahan pemahaman ummat tentang islam, sehingga memisahkan islam dari berbagai lini kehidupan. Bahkan bagi sebagian besar ummat islam saat ini memahami bahwa islam hanya untuk ibadah saja, bukan sebagai suatu sistem hidup apalagi berwujudkan sebagai negara. Maka ikhwan ada sebagai sebuah pergerakan untuk mengembalikan islam sebagai suatu sistem yang mengatur semua hal, syumuliatul islam atau islam yang menyeluruh. Sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Hasan al-Banna ; “Kami menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan dakwah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketenteraman dengan ajaran-ajaran Islam.”
Beliau juga memfokuskan target 2 terget utama pergerakan ikhwan
1. Membebaskan negeri Islam dari kekuasaan asing, karena merupakan hak alami setiap manusia yang tidak boleh dipungkiri kecuali orang yang zhalim, jahat atau biadab.
2. Mendirikan negara Islam, yang bebas dalam menerapkan hukum Islam dan sistem yang Islami, memproklamirkan prinsip-prinsip yang mulia, menyampaikan dakwah dengan bijak kepada umat manusia. Jika hal ini tidak terwujudkan maka seluruh kaum muslimin berdosa, akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung karena keengganan mendirikan daulah Islam dan hanya berdiam diri.”
Untuk mencapai Tujuan mulia ini, jelas harus ada metode untuk merealisasikannya maka hasan al-Banna merumuskan 3 manhaj yang harus dilalui ;
1. Manhaj Aqidah : tidak terlalau ketat dan tidak pula terlalu longgar. Diambil dari mata air para salafus shalih yang melahirkan pribadi yang jiwanya di penuhi dengan : Rasa yakin dengan keagungan misi islam, bangga berafiliasi kepada islam, serta percaya pertolongan Allah.
2. Manhaj Ibadah : Dibangun atas kebenaran akidah ketulusan ittiba’ (Mengikuti Nabi) ; bersifat universal, menjangkau semua, tinggi, sempurna, berkelanjutan dan tidak membedakan antara akdiah dan syariah, antara shalat dan jihad.
3. Manhaj Harakah : Mengutamakan pribadi seorang dai dengan sifat-sifat akhlak dan perilaku utama agar menjadi teladan bagi orang lain. Bergerak dengan realita bukan dengan kata-kata agar perilakunya sesuai dengan apa yang diserukan.
Dengan tuntutan dakwah di zaman modern yang dinamis dan berubah-ubah, maka dakwah harus ikut bermetamorfosa  agar risalah islam tersampaikan secara menyeluruh lewat politik, pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi.  Dan  demi menjaga kemurnian dakwah islam, ikhwan menetapkan “Tsawabit “ sebagai hal yang bersifat tetap,rigid,  tidak tepengaruh zaman dan waktu sebagai dasar islam yang bersumber dari al-qur’an dan al-Hadist serta “Mutagayyirat”  hal yang berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman bersifat fleksible serta bisa diterima lewat ijtihad jam’ah yang bersumber dari Al-qur’an dan al Hadist.
Berikut sepuluh Tswabit dakwah Ikhwanul Muslimin
1. Nama Jama’ah adalah fikrah, aplikasi, dan loyalitas.
2. Amal Jama’i adalah sarana mendinamisasi dakwah
3. Mendakwah lewat Tarbiyah(pendidikan) dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan serta menolak kekerasan
4. Dalam menjalankan tarbiyah menerapkan kekeluargaan (usrah) sebagai sarana asuhan para jama’ah
5. Menjadikan Risalah Ta’lim dan sepuluh rukun, khususnya adalah ushul ‘isyriin (20 prinsip) dan Risalah ‘Aqa’id sebagai referensi dalam gerak dakwah
6. Bersifat syumul (komprehensifitas) sebagai  dasar pandang yang terintegral dalam pemahaman dan pergerakan
7. Syura Mulzimah (mengikat) Sebagai sarana untuk menyelesaikan perbedaan di antara jama’ah ikhwan
8. Menghormati peraturan dan lawaa-ih (rambu-rambu) adalah termaksud akhlak bai’ah jama’ah
9. Hukum fiqih pilihan jama’ah mengikat semua anggotanya
10. Allah sebagai Ghayah (tujuan utama) dalam setiap tsawabit dan mutaghayyirat jam’ah dan dalam setiap ucapan dan perbuatan jam’ah.
   Dengan 10 tsawabit dakwah tersebut kafilah ikhwan tetap menjaga eksistensi kemurnian islam hingga hari ini, yang dakwahnya terus bergerak massive di seantero dunia hingga kita akan menemui di negara-negara selain mesir, ada beberapa gerakan yang secara  ekspilisit merupakan reprentasi dari jama’ah ikhwanul muslimin seperti AKP di Turki, HAMAS di Palestina hinggan PKS di Indonesia . 

Pada intinya dalam setiap gerakan Islam yang besar seperti Jama’ah Tabligh, Hizbut Tahrir,Salafi, dan Ikhwanul Muslimin terdapat Tsawabit Dakwah yang bersumber pada Al-Qur’an dan alhadist, pada wilayah inilah semua jama’ah tersebut bertemu dan bisa “dipersatukan”, maka yang membuat jam’ah-jam’ah tersebut berbeda hanyalah pada Muthagayyirat yang merupakan wilayah ijtihad masing-masing jama’ah yang kemudian membuatnya terlihat berbeda, dan ini tak masalah, sebab perbedaan pada masalah furu’ atau cabang merupakan sunnatullah, maka saya mengajak kepada pembaca untuk merumuskan “kemungkinan” penggabuangan seluruh jam’ah tersebut menuju jama’atul muslimin dibawah naungan Ukhuwah Islmiyah untuk sama-sama menegakkan Khilafah Rasyidah ‘Ala Manhaj Nubuwwah, sebagai pelengkap dalam merumuskan megaproyek ini silahkan membaca Buku karya Almarhun Syekh  Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA yang berjudul Ath-Thariqtu ila Jama’atul Muslimin( Menuju jam’atul Muslimin)

Wallahu ‘alam Bishawab
"Sebelum Anda mendapatkan kewarganegaraan Mesir,Palestina,Thailand,Brunei,Saudi,India, Turki,Suriah,Yordania,Pakistan,Afghanistan,Malaysia,Brunei,Sepanyol,Jepang,Inggris dan saya kewarganegaraan Indonesia, kita semua bersaudara di bawah kubah Allah,"(Dengan ikatan Ukhuwah islamiyah -Abdul Qodir Jaelani)
Sesungguhnya Allah menyayangi orang-orang yang berjihad di jalannya. As-Shaff: 4

Berpegang teguhlah kamu sekalian pada agama Allah, dan janganlah kamu berpecah belah. Ingatilah karunia Allah kepadamu, ketika kamu dahulunya bermusuh-musuhan, lalu dipersatukan-Nya hatimu, sehingga kamu dengan karunia Allah itu menjadi bersaudara. Dan kamu dahulunya berada di tepi jurang neraka, lalu Allah melepaskanmu dari sana. Demikianlah Allah menjelaskan keterangan-keteranganNya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. Al-Imran: 103
Dan katakanlah kepada para hambaku-Ku: "Hendaklah mereka berbicara dengan ucapan yang sebaik-baiknya" dalam berdakwah. Bahwasanya setan itu suka menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya antara setan dan manusia terbentang permusuhan sejak dahulu. Isra: 53
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah bertengkar sesamamu, nanti kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu. Dan tabahlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang tabah. Al-Anfal: 46
Janganlah kamu seperti orang-orang yang berpecah belah dan bersilang- sengketa sesudah datang kepada mereka bukti yang terang! Untuk mereka disediakan siksaan yang besar. Al-Imran: 105.

Mereka bertanya kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang. Jawablah "Bahwa yang berhak menentukan pembagian harta rampasan perang itu, ialah Allah dan Rasul. Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, peliharalah hubungan baik sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Al-Anfal: 1.

Sesungguhnya orang-orang yang berpecah-belah dalam agamanya, sehingga mereka menjadi beberapa golongan, tidaklah hal itu menjadi tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah, untuk kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka tentang apa yang mereka perbuat. An-An'am: 159
Hai orang-orang beriman! Barangsiapa yang murtad di antaramu dari agama Islam, maka kelak Allah akan membangkitkan suatu kaum yang dicintai Allah dan merekapun mencintai-Nya: yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap kecaman orang Ini sebagai celaan keras terhadap golongan munafik yang merasa takut terhadap kecaman para pemimpinnya dari pihak Yahudi.. Itulah karunia Allah. Dan Allah Maha Luas pemberiannya-Nya dan Mengetahui. Al-Maidah:54
 
  

21 Oktober 2010

Saat menjemput maut

0 comments

Adz-Dzahabi menceritakan bahwa ketika sakaratul maut menghampiri Abdul Malik bin Marwan, ia mendengar tukang cuci dari samping istananya. Ia pun berkata, “Oh, sekiranya aku tukang cuci biasa … Seandainya ibuku tidak melahirkanku … Seandianya aku tidak menjabat khalifah…”
Sa’id bin Musayyab, tabi’in terkemuka, mengatakan , saat mendengar ini, “Alhamdulillah”, Allah telah membuat mereka lari ke kita di saat meninggal, bukan kita yang lari ke mereka”. Kita berlindung kepada Allah dari kehidupan seperti ini, yang membuat kita lengah dan lalai.
Abdul Malik bin Marwan, sewaktu berhasil mengalahkan para penentangnya dan membunuh Mush’af bin Zubair di Irak, membentangkan mushaf di hari ia diangkat menjadi Khalifah. Ia membaca mush’af tersebut, lalu menutupnya kembali seraya berkata, “Ini adalah kali terakhirku denganmu!” Lalu, komentar Ad-Dzahabi dalam siyar A’laamin – Nurbalaa, “Ya Allah, jangan perdayakan kami”.
Bandingkan dengan Sa’ad bin Abi Waqqash, salah seorang yang dijamin masuk surga. Ketika sekarat, ia didatangi oleh anak perempuannya yang menangis dekat kepalanya. “Jangan menangis, putriku. Demi Allah, aku ini termasuk penduduk surga!”, ucapnya. Ia benar … beruntung dan berbahagialah Sa’id! Nabi Shallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Sa’ad termasuk penduduk surga.
Betapa jauh perbedaan orang itu. Betapa jauh perbedaan akhir kehidupan keduanya. Tak dapat dibandingkan antara keduanya.
Muawiyah bin Abi Sufyan, sang khalifah, sedang sekarat. Ia turun dari singgasananya, menyingkap permadani, dan menyapukan debu ke wajahnya. Allah Ta’ala berfirman :
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan merka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan di dunia dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud : 15-16)
Muawiyah melanjutkan, “Aku tidak mempunyai bekal apapun yang lebih ampuh dari Laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullah”. Muawiyah melanjutkan, “Bila meninggal nanti, kafanilah aku dengan gaun yang kuperoleh dari Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Ada botol di ruangan kantor kekhalifahan berisi kuku dan rambut Rasulullah! Taruhlah kuku dan rambut tersebut pada mata dan hidungku”. Ia lalu pergi menghadap Allah.


Harun Ar-Rasyid, menjelang ajalnya datang, mengadkan parade militer. Ia memandangi tentaranya, berdo’a : “Wahai Yang Kekuasaan-Nya tidak lenyap, rahmatilah orang yang kekuasaannya sirna”.
Al-Watsiq, pemangku jabatan khalifah sesudah Al-Mu’tashim, adalah orang yang kejam tidak kenal ampun. Dialah yang memenggal kepala Ahmad bin Nashr All-Khuza’I, ulama masyhur, salah satu pucuk pimpinan Ahlul Sunnah wal Jama’ah dan termasuk ulama terkemuka, serta penulis kitab al-I’tishaam bil-Kitab was-Sunnah.
Ketika itu beliau menghadap Al-Watsiq. Al-Watsiq menyuruhnya mengakui bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. Akan tetapi, ia menolak, menentang, dan tidak mau menerima. Al-Watsiq maju dengan sebilah pisau kecil, menusukkannya ke dadanya. Ia menyembelihnya seperti menyembelih kambing.
Kemudian, Al-Watsiq pada saat sekarat, sebagaimana dituturkan oleh As-Suyuthi dalam Taariikhul Khulafa’, begitu mereka membaringkannya setelah ia meninggal dan menyerahkan ruhnya kepada Allah, datangnya seekor tikus yang mengambil kedua matanya dan memakannya!” Peristiwa ini dipelihatkan oleh Allah kepada manusia-manusia diktator di dunia ini.
Thawus, ulama Yaman, datangmenghadap Abu Ja’far al-Mansur.Abu Ja’far adalah oran gyang sangat kejam. Ia telah memenggal kepala para raja, pangeran, dan menteri. Ia dalah seorang paling cerdik. Namun, akhirnya pergi juga menghadap Allah. Seekor lalat selalu hinggap di pucuk hidungnya. Ia mengusirnya, namun lalat itu datang lagi.
“Untuk apa Allah menciptakan lalat, wahai Thawus?”, tanya Abu Ja’far. “Untuk menghinakan kesombongan para tiran”, jawab Thawus. Abu Ja’far terdiam. Lalu ia berkata, “Tolong ambilkan tempat tintat itu”. “Tidak.Demi Allah. Kalau yang akan tuan tulis kebathilan, saya tidak akan membantu tuan untuk sebuah kebathilan”, ujar Thawus, seraya meninggalkan Abu Ja’far Al-Mansur.
Begitulah sikap yang ditampilkan para ulama yang bertakwa dihadapan orang-orang lalai. Ibnu Abi Dzi’b didatangi oleh AlMahdi di Masjid Nabawi. Al-Mahdi adalah seorang Khalifah, putra Abu Ja’far al-Manshur. Orang-orang berdiri, kecuali Ibnu Dzi’b. “Mengapa engkau tidak berdiri menyambut kami seperti yang dilakukan orang-orang?”, tanya Al-Mahdi. Ibn Dzi’b menjawab : “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sebetulnya saya mau berdiri menyambut. Tapi saya teringat firman Allah, “Yaitu pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam”. (Al-Muthafiffin : 6). Karena itulah aku urung berdiri”. “Duduklah! Demi Allah, semua rambut di kepalaku berdiri mendengarnya”, ucap Al-Mahdi.
Abdul Haq al-Isybili menyebutkan bahwa Al-Mu’tashim dijemput kematian. Al-Mu’tashim , penglima militer sekaligus khalifah yang menaklukkan Amuria dengan sembilan puluh ribu prajurit. “Sembilan puluh ribu prajurit bagai singa, kulit mereka matang lebih cepat dari buah tin dan anggur”.
Sebagian para sejarawan mengatakan bahwa ia eprnah meraih lempengan besi lalu menulsikan namanya, karena saking kuatnya. Ia termasuk orang yang paling perkasa. Bahkan seorang ahli hadist berkisah, “Saya menghadap al-Mu’tashim . Ia mengulurkan tangannya kepada saya, lalu berkata, “Aku memintamu, atas nama Allah, untuk menggigit tanganku”. “Saya pun menggigit tangannhya”, lanjut ahli hadist itu. “Demi Allah, gigitanku tidak berbekas pada tangannya”.
Tapi, keperkasaan Al-Mu’tashim itu tidak berdaya saat menghadapi kematian si pemusnah kenikmatan, pemisahkumpulan, dan perampas anak laki-laki dan perempuan. Ajal al-Mu’tashim tiba. “Apakah hari ini aku akan mati?”, tanyanya. “Ya, hari ini Tuan akan mati”, jawab orang-orang. Dia masih sangat muda, baru empat puluh tahun umurnya. Orang mengira ia tidak akan mati sebelum umur tujuh puluh tahun. Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. al-Hasyr : 18)
Orang-orang asyik bermaksiat hanya akan sadar saat sekarat. Betapa banyak penceramah menyampaikan! Betapa banyak ulama berbicara! Betapa banyak da’i sudah menyerukan. Namun, sebagian baru menjawab ketika nyawanya sudah meregang di dada. Laa illaaha illallaah. Betapa lalainya manusia. Wallahu’alam.
saat menjemput maut/al-qalam

19 Oktober 2010

Sebuah Komitmen

0 comments
Pada Zaman Khalifah Umar Bin Khattab RA, ada seorang pemuda yang berencana untuk melakukan perjalanan jauh. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya.

Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu kemudian duduk di bawah pohon. Karena terlalu lelah, akhirnya ia tertidur lelap. Saat ia tidur, tali untanya lepas, sehingga unta itu pergi ke sana ke mari. Akhirnya, unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun. Unta itu juga merusak segala yang dilewatinya.

Penjaga kebun adalah seorang kakek tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu, namun ia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, sang kakek pun membunuhnya. Ketika bangun, pemuda itu mencari untanya. Ternyata, ia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher menganga di dalam kebun.

Pada saat itu, seorang kakek datang. Pemuda itu bertanya, "Siapa yang membunuh unta miliku ini?" sang Kakek lalu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi kebun, maka sang kakek terpaksa membunuhnya. Mendengar hal itu, sang pemuda tak kuasa menahan amarahnya. Saking emosinya, Serta-merta ia memukul kakek penjaga kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu amat menyesal atas apa yang diperbuatnya. Pada saat yang bersamaan, datanglah dua orang pemuda yang merupakan anak dari sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak tidak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya. Kemudian, keduanya membawa sang pemuda menghadap Amirul Mukminin; Khalifah Umar bin Khattab RA.

Mereka berdua menuntut dilaksanakan qishash (hukum bunuh) kepada pemuda yang telah membunuh ayah mereka. Lalu, Umar bertanya kepada sang pemuda. Pemuda itu mengakui perbuatannya. Ia benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya.
Umar lalu berkata, "Aku tidak punya pilihan lain kecuali melaksanakan hukum Allah terhadapmu," sang pemuda dengan lapang dada menerima keputusan tersebut. Ia kemudian meminta kepada Khalifah Umar, agar diberi waktu dua hari untuk pulang ke kampungnya, sehingga dia bisa berpamitan kepada keluarga serta bisa membayar hutang-hutangnya. Umar kemudian  berkata, "Hadirkan padaku orang yang menjamin, bahwa kau akan kembali lagi kesini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishash sebagai ganti dirimu." Pemuda itupun menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, Aku orang asing di negeri ini, aku tidak bisa mendatangkan seorang penjamin."

Salah seorang sahabat mulia, ABU DZAR AL-GHIFARI RA (yang ketika itu usianya terkatagori masih muda) secara kebetulan hadir di majlis tersebut. Beliau kemudian berkata, "Hai Amirul Mukminin, ini kepalaku, aku berikan kepadamu jika pemuda ni tidak datang lagi setelah dua hari." Dengan terkejut, Umar berkata, “Apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai Abu Dzar, sahabat Rasulullah?," "Benar, ya Amirul Mukminin," jawab Abu Dzar lantang.

Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman qishah, orang-orang penasaran menantikan datangnya pemuda itu. SANGAT MENGEJUTKAN! Dari jauh sekonyong-konyong mereka melihat pemuda itu datang dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia tiba di tempat pelaksanaan hukuman. Orang-orang memandangnya dengan takjub. Umar bertanya kepada pemuda itu, "Mengapa kau kembali lagi ke sini Anak Muda, padahal kau bisa menyelamatkan diri dari maut?" Pemuda itu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, aku datang ke sini agar jangan sampai orang-orang berkata, 'tidak ada lagi pemuda yang menepati janji di kalangan umat Ini'. Dan agar orang-orang tidak mengatakan, 'tidak ada lagi Pemuda sejati nan kesatria yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di kalangan umat ini"

Lalu, Umar melangkah ke arah Abu Dzar Al-Ghiffari dan berkata, "Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa mantap menjamin pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?" Abu Dzar menjawab, "Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi Pemuda jantan yang bersedia berkorban untuk saudaranya seiman dalam umat ini."

Mendengar itu semua, dua orang pemuda anak kakek yang terbunuh pun ikut berkata, "Sekarang tiba giliran kami, wahai Amirul Mukminin, kami bersaksi di hadapanmu bahwa pemuda ini telah kami maafkan, dan kami tidak meminta apa pun darinya! Tidak ada yang lebih utama dari memberi maaf di kala mampu. Ini kami lakukan agar orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi pemuda yang berjiwa besar, yang mau memaafkan saudaranya di kalangan umat ini.”

2 Oktober 2010

Arti Nama-nama bulan Hijriyyah

0 comments
Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.
Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah.
Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 - 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata'ala: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36).
Sebelumnya, orang arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah di tahun gajah.
Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah).
Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw.
Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab.
Orang Arab memberi nama bulan-bulan mereka dengan melihat keadaan alam dan masyarakat pada masa-masa tertentu sepanjang tahun. Misalnya bulan Ramadhan, dinamai demikian karena pada bulan Ramadhan waktu itu udara sangat panas seperti membakar kulit rasanya. Berikut adalah arti nama-nama bulan dalam Islam:
MUHARRAM, artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam.
SHAFAR, artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki.
RABI'ULAWAL, artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninqgalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah. Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga.
RABIU'ULAKHIR, artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan.
JUMADILAWAL nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan.
JUMADILAKHIR, artinya: musim kemarau yang penghabisan.
RAJAB, artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang.
SYA'BAN, artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah).
RAMADHAN, artinya: sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tersebut dalam Al-Quran, Satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan. Hal itu dikarenakan peristiwa-peristiwa peting seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib, pada bulan ini kaurn muslimin dapat rnenaklukan kaum musyrik dalarn perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik.
SYAWWAL, artinya: kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. Itulah yang mernbahagiakan.
DZULQAIDAH, berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatmnya dengan duduk-duduk di rumah.
DZULHIJJAH artinya: yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam as. menunaikan ibadah haji.
(sa/kaskus/bdm.am.ac/imerzone)

21 Agustus 2010

Hukum Melaksanakan Shalat Malam setelah Pelaksanaan Shalat Witir

0 comments
Assalamu'alaikum wr wb..
Salam ustad, semoga selalu diberkahi Allah swt.
Pada saat shalat tarawih dalam bulan ramadhan, biasanya diikuti dengan shalat witir, pertanyaannya bagaimana jika malamnya atau sebelum sahur saya melakukan shalat tahajud lagi? padahal shalat witir adalah penutup shalat.
Saya juga pernah dengar kalau ingin shalat tahajud lagi, witirnya harus digenapkan terlebih dahulu, itu bagaimana? dan apa niat shalatnya?
Terima kasih ustad..
Jazakallah khairan
Ridho
Ridho

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Ridho yang dimuliakan Allah swt
Permasalahan seperti ini kerap kali ditanyakan sebagian kaum muslimin. Hal demikian didasarkan pada riwayat Tirmidzi dari Qais bin Thalq bin Ali dari ayahnya dia berkata, saya mendengar Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada dua kali witir dalam satu malam." Juga apa yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir."
Al Lajnah ad Daimah didalam fatwanya No. 11271 mengatakan :
1. Barangsiapa yang tidur dalam keadaan telah melaksanakan witir kemudian dia bangun malam untuk tahajjud maka shalatlah apa yang ditetapkan terhadapnya namun tidak usah mengulangi witir, sebagai pelaksanaan terhadap larangan Nabi saw tentang tidak ada dua witir dalam satu malam.
 
2. Barangsiapa yang tidur dan belum melaksanakan witir namun berniat bangun di akhir malam dan dirinya memiliki kesanggupan untuk melakukannya maka hendaklah dia melaksanakan shalat witir di akhir malamnya, inilah yang paling utama karena saat itu adalah waktu turunnya Allah swt dan mengamalkan hadits ,”Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir." Hadits ini menunjukkan keutamaan dan tidak ada pertentangan dengan hadits Abu Hurairoh,” Kekasihku memberiku tiga wasiat; puasa tiga hari pada setiap bulan, shalat dluha dan tidak tidur sebelum aku shalat witir." Karena hal ini (hadits Abu Hurairoh) adalah hak orang yang tidak memiliki kesanggupan didalam dirinya untuk bangun di akhir malam.
Terdapat riwayat bahwa Nabi saw melaksanakan shalat witir pada awal, pertengahan dan akhir malam.” Hal ini menunjukkan bahwa malam seluruhnya adalah waktu untuk melaksanakan shalat witir. Sabda Rasulullah saw,” Barangsiapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia melakukan witir di awal malam. Dan barangsiapa yang berharap mampu bangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam disaksikan (oleh para malaikat) dan hal itu adalah lebih afdhal (utama).
 
3. Barangsiapa yang tidur dan belum melaksanakan shalat witir sedangkan dirinya berniat bangun di akhir malam namun dirinya dikalahkan oleh tidurnya maka disyariatkan baginya untuk mengqodho shalat witir pada waktu dhuha dan menggenapkannya dengan satu rakaat,”Apabila Rasulullah saw ketinggalan shalat malam karena sakit atau lainnya, maka beliau melaksanakan shalat pada siangnya sebanyak dua belas rakaat." (HR. Muslim)
Wallahu A’lam
 
Source : Eramuslim.com

20 Agustus 2010

Andai Ini Ramadhan Terakhir

0 comments
Andai saja, Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir yang menyapa kita, apa yang akan kita lakukan? Andai saja memang demikian.

Sahabat,

Pertanyaan seperti di atas, sesekali perlu kita ajukan pada diri sendiri. Untuk apa? Tentu saja untuk memacu diri, agar memanfaatkan waktu yang kita jalani. Mengumpulkan detik demi detik, agar tak ada yang tersia.

Memanfaatkan setiap saatnya agar bernilai ibadah dan berat timbangannya.
Pernahkah kita mendengar kisah tentang seorang ahli hikmah bernama Bahlul? Dalam bahasa Arab, kata bahlul berarti bodoh. Meski demikian, sang pemilik nama tidaklah bodoh sama sekali. Dengan perilakunya yang seringkali dianggap bodoh, Bahlul justru kerap memberi hikmah.


Suatu hari Bahlul dipanggil oleh raja. Sang Raja merasa heran, mengapa ada seorang manusia yang rela memakai nama Bahlul. Maka dengan penuh rasa penasaran, sang raja bertanya, “Apakah tidak ada orang lain yang pantas menyandang namamu?”
“Tidak ada, baginda. Menurut sepengetahuan saya, hamba saja yang paling bodoh dan paling pantas menyandangnya,” ujar Bahlul yakin.
 “Kalau begitu, aku akan memberikan anugerah untukmu atas kejujuran itu,” kata sang raja. Lalu kepada Bahlul diberikan sebuah tongkat yang indah.
“Terimalah tongkah ini dengan satu syarat. Jika kelak kau menemui orang yang lebih bodoh darimu, maka kau harus rela menyerahkannya,” titah sang raja. Bahlul pun menyetujuinya.

Sahabat,
Kisah pun berlanjut. Suatu ketika, Bahlul mendengar kabar tentang raja yang sakit berat. Dari kabar yang menyebar, umur baginda raja sudah tak akan lama. Maka Bahlul pun menemuinya.
Setelah bertemu dan beruluk salam, Bahlul pun bertanya. “Wahai baginda, apa yang baginda rasakan sekarang?”
“Wahai Bahlul, jangan lagi kamu tanyakan. Rasanya aku akan pergi jauh. Jauh sekali.”
Bahlul yang tak mengerti bahasa isyarat, ingin mengetahui lebih dalam lagi. “Pergi kemana baginda? Sejauh apa?”
“Sejauh apa? Sangat jauh. Bahkan aku tak akan kembali dalam perjalanan ini,” kata sang raja.
“Ohoi, alangkah jauhnya, baginda. Sampai-sampai engkau tak memikirkan kembali. Apakah baginda sudah menyiapkan bekal untuk perjalanan jauh ini?” tanya Bahlul, masih tak mengerti.
“Tak ada, Bahlul, tak ada. Dalam perjalanan ini, engkau tak mungkin membawa bekal,” sang raja menerangkan.
Tiba-tiba Bahlul berdiri sambil menarik tongkatnya. Semua orang di ruangan terkejut melihatnya. Lalu Bahlul mengambil tongkatnya, dengan serta merta ia memberikan tingkat itu pada sang raja.
“Saya tidak percaya, ternyata baginda lebih bodoh dari saya. Sebodoh-bodohnya saya, saya masih mengerti semua perjalanan memerlukan bekal. Apalagi untuk perjalanan yang jauh dan tak mungkin kembali. Baginda, terimalah tongkat ini, karena baginda lebih berhak memegangnya,” tegas Bahlul mantap.

Sahabat,
Semua perjalanan memerlukan bekal. Benar, seperti yang dikatakan Bahlul. Dan jika Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir dalam umur kita, maka kita harus benar-benar memanfaatkannya untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya.
Suatu kali Rasulullah saw pernah menaiki mimbar untuk berkhutbah.  Saat menginjak anak tangga pertama beliau mengucapkan, "Amin." Begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Lalu para sahabat, seusai shalat bertanya kepada Rasulllah. “Mengapa Rasulullah mengucapkan, amin?”
Beliau pun menjawab, bahwa Malaikat Jibril datang dan berkata, “Kecewa dan merugi seorang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu. Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orangtuanya tetapi dia tidak sampai bisa masuk surga. Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya,” (HR Ahmad).

Sahabat,
Tak seperti bekal-bekal yang lain yang harus kita himpun. Bekal untuk menghadap Allah, justru harus kita tabur. Perbanyak sedekah, adalah mengumpulkan bekal. Perbanyak perbuatan baik, adalah mengumpulkan bekal. Perbanyak silaturahim, adalah mengumpulkan bekal.
Tidak seperti di bulan-bulan lain, di bulan yang mulia ini, Rasulullah saw mengajarkan kita untuk lebih memperbanyak infaq, sedekah dan perbuatan baik. Di bulan Ramadhan, kedermawanan Rasulullah jauh melebihi bulan-bulan yang lain. Di bulan ini beliau melipatgandakan semua perbuatan baik.
Rasulullah memerintahkan kita untuk tak berat tangan dalam bersedekah. Rasulullah mengajarkan kepada kita agar tak pernah berpikir dua kali ketika hendak memberi. Karena apa yang kita sedekahkan akan menjadi penghalang dari azab Allah yang akan datang. “Jauhkan dirimu dari api neraka, meski dengan sedekah sebutir kurma,” (HR Muttafaq Alaih).

Sahabat,
Agama ini begitu ajaib. Di buka berbagai cara untuk melakukan kebaikan. Diajarkan bermacam keutamaan. Tak melulu soal harta. Tak selalu tentang materi. Kekuatan niat menjadi landasan utama dari berbagai peristiwa.
Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk ringan tangan memberi sedekah. Lalu para sahabat bertanya tentang caranya. “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?”
“Bekerja dengan keterampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersedekah,” sabda baginda Rasulullah.
Para sahabat bertanya lagi. “Bagaimana kalau dia tidak mampu?”
Lalu Rasulullah pun memberi cara yang lain, “Menolong orang yang membutuhkan dan sedang teraniaya.”
“Bagaimana kalau dia tidak bisa melakukannya?”
“Menyuruh berbuat ma’ruf adalah sedekah.”
“Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?”
“Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sedekah,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sahabat,
Kita tak boleh kehilangan kesempatan untuk meraih kebaikan. Ramadhan ini kita harus menghisap kebaikannya dan kemuliaannya sampai pada tetes yang terakhir. Tak boleh ada yang tersisa dan harus menghasilkan keutamaan untuk diri kita.
Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang telah diberi peringatan oleh Rasulullah saw. Banyak di antara orang yang berpuasa, tapi tak mendapatkan kebaikan dan kemuliaan dari bulan Ramadhan yang penuh berkah. “Mungkin hasil yang diraih seorang shaum hanya lapar dan haus saja. Mungkin hasil yang dicapai seorang yang shalat malam hanyalah berjaga,” (HR Ahmad dan Al Hakim).
Na’udzubillah. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan dosa dan perilaku yang sia-sia. Amin.

Herry Nurdi

19 Agustus 2010

Khutbah Rasul Di Haji Wada’

0 comments
Musim haji tahun 10 H. Kurang lebih 140.000 kaum muslimin datang dari segenap penjuru Arabia. Rasulullah saw bersama kaum muslimin sedang menunaikan rukun Islam kelima, haji. Diantara ribuan manusia yang memenuhi padang Arafat yang dahsyat dan luas itu, Rasulullah menyampaikan khutbah akbarnya.



Dari atas ontanya yang tenang berdiri di Namirah dekat bukit Arafah, Rasulullah saw berkhutbah dengan nada suaranya yang tinggi sambil berkali-kali menunjuk ke langit.
Sabdanya:
“Wahai manusia, dengarkan nasihatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi bertemu muka dengan kamu semua di tempat ini!”
“Tahukah kamu semua, hari apakah ini?”
Dijawab sendiri oleh beliau. “Inilah hari Nahar, hari kurban yang suci.
Tahukah kamu bulan apakah ini? Inilah bulan suci.
Tahukah kamu tempat apakah ini? Inilah kota yang suci”.
“Maka dari itu aku permaklumkan kepada kamu semua bahwa darah dan nyawamu, harta bendamu dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kamu sampai kamu bertemu dengan Tuhanmu kelak. Semua harus kamu sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini, dan sebagaimana sucinya kota ini.
Hendaklah berita ini disampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir di tempat ini oleh kamu sekalian! Bukankah aku telah menyampaikan?! O, Tuhan saksikanlah!”
Hari ini hendaklah dihapuskan segala macam bentuk riba. Barang siapa yang memegang amanah di tangannya, maka hendaklah ia bayarkan kepada yang empunya. Dan sesungguhnya Riba Jahiliah itu adalah batil. Dan awal riba yang pertama sekali aku sapu bersih adalah riba yang dilakukan oleh pamanku sendiri, Abbas bin Abd. Muthalib”.
“Hari ini haruslah dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam pembunuhan Jahiliah, dan penuntutan darah ala Jahiliah. Yang mula pertama aku hapuskan adalah atas tuntutan darah ‘Amir bin Haris”.
“Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumimu yang suci ini. Tetapi ia (setan) bangga bila kamu dapat menaatinya walaupun dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun. Maka waspadalah kamu atasnya!”
Hai Manusia! Sesungguhnya zaman itu beredar semenjak Allah menjadikan langit dan bumi”.
“Wahai manusia! Sesungguhnya bagi kaum wanita itu (isteri) ada hak-hak yang yang harus kamu penuhi, dan bagimu juga ada hak-hak yang harus dipenuhi oleh isteri itu. Ialah, bahwa mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kamu sendiri, dan mereka tak boleh membawa orang lain yang tidak kamu sukai ke rumahmu, kecuali setelah mendapat izin dari kamu terlebih dahulu. Maka sekiranya kaum wanita itu melanggar ketentuan-ketentuan yang demikian, sesungguhnya Allah telah mengizinkan kamu untuk meninggalkan mereka, dan kamu boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu. Tetapi bila mereka berhenti dan tunduk kepadamu, maka menjadi kewajibanmulah untuk memberi nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, bahwa kaum hawa itu adalah makhluk yang lemah di sampingmu, mereka tidak berkuasa. Kamu telah bawa mereka dengan suatu amanat dari pada Tuhan dan kamu telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Dari itu taqwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul baik dengan mereka! Wahai umat, bukankah aku telah menyampaikan?! O, Tuhan, tolonglah saksikan!”
“Wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kamu sesuatu, yang bila kamu pegang ia erat-erat niscaya kamu tidak akan sesat-sesat selama-lamanya. Dua saja: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Hai manusia dengarkanlah baik-baik apa yang aku ucapkan kepada kamu niscaya kamu bahagia untuk selamanya dalam hidupmu!”
“Wahai manusia! Kamu hendaklah mengerti, bahwa orang-orang beriman itu adalah bersaudara. Maka bagi masing-masing pribadi diantara kamu terlarang keras untuk mengambil harta saudaranya kecuali dengan izin hati yang ikhlas. Bukankah aku telah menyampaikan? O, Tuhan tolong saksikan!”
Janganlah kamu setelah aku meninggal nanti kembali kepada kafir, di mana sebagian kamu mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Karena, bukankah aku telah tinggalkan untukmu pedoman yang benar, yang bila kamu ambil ia sebagai pegangan dan suluh kehidupanmu tentu kamu tidak akan sesat, yakni Kitab Allah (Al Quran). Hai umat, bukankah aku telah menyampaikan?! O, Tuhan, saksikanlah!”
“Hai manusia! Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah tunggal, dan sesungguhnya kamu berasal dari satu Bapak. Semua kamu dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling taqwa, tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab itu dari yang bukan Arab, kecuali dengan taqwa”.
“Hai umat, bukankah aku telah menyampaikan?! O, Tuhan saksikanlah! Maka hendaklah barang siapa yang hadir diantara kamu di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan pesan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir!”
Demikian pesan rasul dalam khutbahnya di Haji Wada’. Suatu pertemuan yang sangat mengesankan, sangat mengharukan. Penuh tangis para sahabat yang mulai terbayang akan perpisahannya dengan junjungan yang amat mereka cintai, Rasulullah saw. Pesannya ini pun mesti kita teruskan ke setiap generasi, sebagaimana titah Rasul tadi. Dimana pun ujung jari kaki kita ini menapaki bumi.

18 Agustus 2010

Revisi Target. *Better Late Than Never

0 comments

Tujuan, Manakala sudah di tetapkan…
Sepelan Apapun bergerak, InsyaAllah adalah sebuah kemajuan…
Sebaliknya Tujuan, Manakala belum ditetapkan…
Sekuat apapun bergerak, bisa membawa kepada kehancuran…
Mari kita merevisi target Romdhon kita, kita lihat,,kemajuan apa yang bisa kita hasilkan, serta kebaikan apa yang bisa kita lakukan.




Berikut contoh target pribadi di bulan Romadon, yang InsyaAllah bisa membantu saudara-saudara dalam menyusun target di bulan Romadhon(mohon maaf telat merilisnya)

TARGET SELAMA RAMADHAN 1431 H

FARDIYYAH
- Shalat berjama’ah 35x per pekan
- Shalat sunnah rawatib 35x per pekan
- Qiyamul Lail setiap hari
- Shalat dhuha 7x per pekan
- Khattam Qur’an 1 hr 1 juz
- Ma’tsurat Sughra 7x setiap hari
- I’tikaf 10 hai terakhir di masjid Raya Mujahidin
- Shaum Sunnah 6 hari di bulan syawal

KELUARGA
- KADO Paket hari Raya
- Iftor dirumah minimal 1 x

MASYARAKAT
- Iftor Jama’I di masjid-masjid atau lainnya
- Tadarusan

10 Agustus 2010

Nothing Personal

0 comments
Alhamdulillah bisa nge-post lagi...Sekarang Sehari sebelum Romadhon tiba...sejujurnya saat ini aku sudah mempersiapkan entry baru untuk blog ini berdasarkan penagalamanku selama 3 hari di kota Kebumen Jawa Tengah, berhubung memory kamera aku yang berisi note yang udah aku buat beserta foto2 nya tidak bisa terbaca oleh warnet disini..maka dengan tetap ingin mengalirkan nafas blog ini...aku hadirkan sebuah pemikiran yang sangan bagus, masih dari penulis yang aku kagumi..akhiina Herry Nurddi (PIMRED SABILI) yang berjudul Nothing Personal...sebuah tulisan yang akan membuat kita berpikir seribu kali untuk berbuat dhzholim sekecil apapun sesimple apapun...aku jadi teringat tentang ilmu yang aku dapatakan dari majelis tafsir tematik ustad Harjani Hefni(penulis 7 islamic daily habit)yang mengajrkan tentang definisi Dzholim menurut ulama' tafsir...

"Wadh u sai'in fie ghoir mahaalli" artinya : Meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya...semoga mukaddimah ini bisa menggiring pembaca untuk memahamai tulisan ini...

Oleh : Herry Nurdi
Suatu hari -dari seorang ustadz- penulis mendengar kisah seekor semut yang melakukan perbuatan dan berakibat terbunuhnya seluruh semut. Perbuatan yang semula hanya ia lakukan sebagai respons dan bersifat keputusan personal, ternyata memiliki dampak komunal dan berakibat pada kehidupan sosial.

Syahdan, seorang pemimpin sebuah pasukan duduk di atas tanah dalam perjalanannya menuju suatu tempat. Tanpa sengaja, pimpinan pasukan tersebut menduduki seekor semut yang tak jauh berada dari sarangnya. Sontak, sang semut menganggapnya sebagai sebuah serangan, atau setidaknya pimpinan pasukan tersebut telah membuatnya kesakitan.

Sebagai respons, tanpa pikir panjang ia melawan, membalas dengan gigitan. Sang semut hanya merespons berdasarkan insting bertahan dan reaksi atas rasa sakit yang ia rasakan. Pertimbangannya menggigit pimpinan pasukan itu, benar-benar pertimbangan personal. Tentu saja tanpa ia rundingkan terlebih dulu dengan kepala suku semut, atau induk semang. Yang ia pikirkan hanya membalas kesakitan.

Sang pimpinan pasukan, mendapati dirinya kesakitan digigit semut, lalu melakukan reaksi yang tak terbayangkan oleh semut yang menggigitnya. Pimpinan pasukan tersebut memerintahkan beberapa orang dari pasukannya untuk membakar sarang semut yang ada di sekitar mereka. Dan begitulah hari itu berakhir dengan terbakarnya seluruh klan semut hanya karena sebuah gigitan seekor semut yang tak berpikir panjang.

Tentu saja jangan mendebat kisah kecil ini dengan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang semut yang memang tak memiliki nalar. Bagi penulis, kisah ini mengajarkan sesuatu, bahwa dalam hidup tak ada yang benar-benar mutlak bersifat personal. Semua selalu memiliki kaitan dan ikatan yang lebih besar. Dan satu peristiwa akan melahirkan, setidaknya berakibat pada peristiwa lain dalam kehidupan yang lain lagi.

Apa yang terjadi dan kita alami hari ini, sesungguhnya adalah hasil dari rentetan keputusan dan peristiwa yang terjadi pada masa sebelumnya. Ketika kita hari ini mengalami kemalangan, hal itu tidak serta merta terjadi pada hari yang sama. Ada peristiwa yang menjadi preambule yang sangat signifikan pengaruhnya. Atau ketika hari ini kita mendapatkan sebuah kesenangan, ada jaring laba-laba yang mengaitkannya dengan kejadian-kejadian masa silam. Tak ada yang benar-benar terlepas dan mutlak independen.

Dan kejadian-kejadian di masa silam itu, biasanya lahir dan muncul, dari keputusan-keputusan yang diambil secara personal. Seorang Presiden dan Wakil Presiden yang hari ini memotong subsidi BBM misalnya, terpilih menjadi kepala negara karena pemilihan umum yang dimenangkannya. Mengapa mereka memenangkan pemilu, karena ada personal-personal yang memberikan suaranya. Mengapa mereka memberikan suara? Terlalu banyak alasan yang bisa kita kumpulkan.

Ada yang dengan analisis pribadi mengatakan, keduanya dipilih karena memang layak dari berbagai sudut pandang. Ada yang memilih karena struktur dan hasil kerja mesin politik. Tapi tak sedikit yang memilih hanya karena calon yang dijagokan berwajah tampan, gagah dan mengagumkan. Semua pilihan berdasarkan pertimbangan dan keputusan personal.

Tapi hari ini, keputusan-keputusan yang kita anggap sebagai keputusan personal tersebut memiliki dampak sosial yang sangat luas dan bisa jadi mematikan. Tidak saja untuk individu, tapi mematikan juga pada tahapan sosial dan komunal.

Alangkah malang nasib kita, yang tak pernah berbuat sesuatu, tapi ternyata di kemudian hari mendapati diri kita terdampak perbuatan orang lain. Lebih malang lagi jika kita yang ternyata menjadi penyebab. Lihat saja contoh soal yang sampai hari ini belum terselesaikan: Lumpur Lapindo.

Mungkin pada awalnya, itu hanyalah keputusan personal seorang pemimpin perusahaan yang melakukan drilling tanpa chasing, memilih jalan pintas karena semuanya masih bersifat gambling. Untuk menghemat uang perusahaan ia akhirnya memutuskan melakukan pengeboran tanpa prosedur yang benar. Tapi rupanya, keputusan yang ia pikir sederhana itu kini memiliki dampak komunal yang sangat besar. Ribuan manusia kehilangan tempat tinggal. Mereka kelaparan, tak punya pekerjaan, hidup di pengungsian, pendidikan anak-anak yang terbengkalai, serta seribu dampak sosial yang semakin besar.

Ohoi, alangkah malangnya mereka yang bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa besar yang berdampak pada banyak orang dan kehidupan. Mungkin hari ini mereka bisa berkelit dari tanggung jawab di depan manusia. Tapi kelak mereka akan berdiri dengan lutut gemetar serta mata yang nanar di hadapan Sang Pencipta alam. Dan tak mampu berkata barang sebentar.

Percayalah, tak ada yang benar-benar bersifat personal dan individual. Seluruh dari kita memiliki ikatan dan kaitan, dengan hidup dan peristiwa yang akan dialami oleh manusia lain dalam kehidupan yang berbeda. Karenanya, wahai makhluk yang berakal, pikirkanlah benar-benar perbuatan yang akan kita lakukan.

9 Agustus 2010

Untuk Semua yang bernama Cinta

5 comments
Mereka yang tak mengenal cinta mencelamu sungguh, cintamu padanya adalah kewajaran.
Mereka bilang, cinta telah membuatmu hina
Padahal kau orang yang paling hafal agama.
Kukatakan pada mereka, mengapa mencelanya.
Karena ia mencintai dan dicintai sang kekasih
Jangan berlagak suci, menyebut cinta sebagai dosa
Bahkan Muhammad pun tak akan mencela para pecinta
Dia tak pernah menghina umatnya yang jatuh cinta.

Ibn Hazm al-Andalusy

Untuk semua yang bernama cinta...

Tafakkurilah ; cinta adalah kekuatan. Cinta bukan kesalahan, dan dia menamakan dirinya energi. Bersama cinta, kekuatan terpancar sempurna. Bernafas seperti dihidupkan, reinkarnasi. Memompa usang hingga terjang. Menyemangati otot, tulang, darah- berdesir bukan main derasnya. Kepalang! Menyemai benih-benih yang berbunga lebih marak dari jamur musim basah. Hujan dan negeri awan-awan perak. Hati, perasaan, atau apalah namanya akan melangkah lebih kapas dan riang. Cinta mewarnai manusia dengan pelanginya sendiri. Pelangi kombinasi yang berwarna lebih dari tujuh, lebih indah dari subuh.
Akui saja; cinta adalah kekuatan. Dia kuat dan tangguh. Hebat! Banyak orang yang angkat tangan setelah setengah mati membumihanguskannya. Cinta itu panas dan lebi bara dari api. Bagaimana strateginya mendebuakan apai dengan api? Salah strategi. Mungkin di afrika, tapi tidak disini. Yang benar saja. Jangan konyol ; don’t be radiculous. Lembaran sejarah bercerita; sesungguhnya orang yang tak mengenal cinta, tidak akan pernah bisa mengalahkan cinta. Bagaimana yang mengenal? Ada kemungkinan. Namun, cinta hanya bisa diatasi, bukan dengan menyalib nyawanya. Kalaulah ada kalanya manusia berhasil membunuh cinta, itu adalah tragedi. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk yang bersangkutan.

Hidup tanpa cinta ?

Dia pasti sudah kurang waras. Kurang empati – memutuskan untuk berhenti merasakan. Sosiapat; perbandingan 1 dari 25 orang Amerika (mungkin angka ini telah berubah seiring dengan kerusakan masif dan bergerak maju lagi intensif disana). Namun orang-orang seperti itu akan selalu ada. Contoh buruk keinsanan yang menguap. Tuhan menghukumnya karena telah terlalu sombong, dan memberikan perasaan ; tidak terjadi apa-apa. Dia pikir, itu hadiah. Dia kira, itu keistimewaan.
Sama sekali bukan...
Berhati-hatilah; cinta adalah kekuatan. Mungkin ada waktunya cinta menjelma kebalikan. Titik paling lemah, titik paling tolol yang disukai setan. Ya, kekuatan bagi sipa dulu? Dalam kasus tertentu, iblis telah memanfaatkannya. Telah memberdayakannya. Kreatif – harus diakui. Tapi, cinta yang murni tidak akan pernah bisa disalah gunakan. Pastilah nafsu ikut peran. Hanya cinta tertinggi yang sanggup mengalahkan. Cinta melawan cinta? Bisa saja. Dunia, langit. Bumi melawan angkasa. Pertarungan seru hitam dan putih. Akal melawan kemaluan. Kebenaran pasti menang, akan tetapi buakn itu inti persoalan. Siapa yang melawan, apa yang dia gunakan, dan bagaimana dia berjuang adalah indeks-indeks penting. Yang akan dihisab, yang akan diperhitungkan. Nah, pusinglah cinta. Rumit, kusut, seperti perjalanan cinta.

Tersenyumlah; cinta adalah kekuatan. Cinta juga secarang kepedihan. Terkadang dia tidak lebih manis dari ampas jamu. Lebih maja dari empedu. Habbatussauda – konon bisa menyembuhkan berbagai. Namun, tidak memukul rata keadaan ; cinta dan segala tingkah lakunya. Cinta dan segala kenakalannya. Cinta dan segala ulahnya. Cinta bukan terdiri dari huruf C saja. Masih ada I, N , T, dan A. Maka, terimalah cinta apa adanya. Sabar, seluruh komponennya. Resiko memang ada, memang niscaya. Tapi, percayalah ; untuk semua yang bernama cinta, akan ada gnjaran. Setimpal ; sesuci apa, selurus apa.

Cinta adalah kekauatan. Tak perlu banyak sabda untuk mengatakannya...

Think Deeply In Madrasah Romadhon

0 comments
This is English version, which i posted for my friends those who dont understand BAHASA, hehehe especially Ezah Hafidzah...

After a long unused blog ... without neglecting what i had made .. now let's share ... hehehe well because I'm not too good in writing (coz i just like reading), so I want to post some articles which i got from Islamic thinkers that i'm sure his mind is relevant in islam condition nowdays. lets check it out!!!

By: Herry Nurdi (Leader of Sabili Magazine)

Allama Muhammad Iqbal ever told about himself, his father and al-Qur'an. "I used to read the Qur'an after Subuh prayers. And father, always watched me, "he said. Not just watching, the father also asked. "What are you doing?" Asked the father. Though clearly the father saw his son was Reciting Al-Qur'an. "I answered him,I was reading the Qu'ran," recalled Mohammed Iqbal. The question was repeated by his father every morning, just after Subuh, for three full years. The answer was given is same, every morning, just after subuh, a full year, Muhammad Iqbal said was reciting Al-Qur'an. Then, one day Muhammad Iqbal dared to ask his father. "Why does father always asked the same question, but I also always the same answer?" "Son, recite the Qur'an as if it were handed down directly to you." And since then, Muhammad Iqbal know what the message behind his father's questions. Since that time, Muhammad Iqbal, the high spirit continues to build inside himsefl, as if al-Quran came down directly for him. Muhammad Iqbal not only recite, but also try to understand. Can not only understand, but also understand. Not limited to comprehend, but also manifest. Not only manifest, but also tried to convey back to the contents of the Qur'an as he understands. So today we remember the name of Muhammad Iqbal as one of the great figures in the Islamic world. Even some circles as one mujaddid call or a reformer in the history of Islam. Muhammad Iqbal deserve and deserve to be large, because he'd recite, understand, understand, and manifest, and that he conveyed was a very big thing: al-Qur'an. And more than anything, he was able to build something very big: the feeling that the Qur'an revealed to him directly. "The month of Ramadan, the month in which reduced (beginning) of the Qur'an as a guidance for mankind and the explanations of the instructions and differentiator (between right and falsehood). Therefore, whoever among you is present (in the country where he lived) in the month, he must fast that month, and those who are sick or in travel (and then he broke), then (ought to fast for him), that left as many days , on the other days. Allah intends for you ease, and does not want hardship for you. And ye shall replenish the numbers and you shall glorify God for His guidance is given unto you, that ye may be grateful, "(Sura al-Baqara: 185). Today, there are approximately 1.6 billion people who make a pledge as a Muslim. They are spread all over the world. In the West and the East. Each of them life in their own problems. Each of them are busy with all the agenda. Trying to solve all problems in a variety of events. Fight with the choices that are not light in life. Up-until they forget, that in fact the creator of Man have prepared a guide book where all the trouble to find an answer, where all musykilah find the reference. Al-Qur'an. By the light of Allah Almighty says, He does not want hardship for us. He wants the ease of humans. Today, how many people are able to build the Spirit as it has been able to be built by Muhammad Iqbal. In parts of Southeast Asia is the same, the Muslims numbered no less than 400 million people. And almost half of the amount above, birth, life and living in Indonesia. Country with the largest Muslim population in the world. Let us repeat the question. How many of the number of Muslims in Indonesia, which have the same feelings with Muhammad Iqbal? Or we need to pursue the target questions. How many Muslim leaders who can bring a feeling, that the Qur'an was revealed to him, not for others, not to the other pilgrims, not to the other? How much!? This month is a month full of blessings. Month reduction in the glorious Qur'an, guidance for mankind. If today Muslims are able to present a sense of the above in the soul, God willing, 50 percent of the problem has been overcome by itself. Either internal or external problems. And if we are able to do that, God willing, we also dare boldly say, "Takun daulatal Fie qalbika takun Islamiyah fi ardhika." Set in the heart of Islam first, then he will erect itself on the face of the world. Amen.